Ilmu Padi

Bukan, bukan mau bahas peribahasa itu, peribahasa yang kita semua tahu. Ini cerita tentang nasihat kakek saya yang usianya menjelang 9 dekade. Sejak kemarin saya berkesempatan mengunjungi beliau di Purworejo sana. Ceritanya masih dalam rangkaian #SafariRindu setelah setahun lebih meninggalkan tanah air. Meskipun sudah tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, Alhamdulillah beliau berkabar (relatif) baik, begitu pula nenek yang selalu setia di sisinya.

Sambil menikmati bakwan dan cemilan seadanya, sang kakek bercerita tentang kondisi pertanian di Tersidi Lor, desa di mana beliau tinggal. “Di Tersidi ini, 90% warganya bekerja sebagai petani, 5% pagawai, dan sisanya campuran.” Begitu kurang lebih pembukaan yang beliau sampaikan, sedikit banyak memberikan gambaran bahwa desa ini memang didominasi oleh area pesawahan. Saya cuma mengangguk.

Beliau pun melanjutkan, “Tahun lalu, perolehan panen beras cuma 25% dari jumlah yang seharusnya, karena banyak padi yang gabug (kopong-red).” Ada beberapa kalimat lagi yang beliau lanjutkan, tapi saya tidak begitu hafal karena berisi angka-angka dengan satuan kwintal. Hehe… Langsung saja saya hajar dengan pertanyaan, “Kenapa bisa begitu?”

“Karena gusti Allah.” Sesingkat itu beliau jawab. Suasana mendadak hening, saya pun masih setengah percaya kalau beliau akan menjawab demikian. Bukan berarti saya tidak percaya, tapi saya menantikan jawaban yang lebih ilmiah atau setidaknya berdasarkan pengalaman beliau dan kawan-kawan tani lainnya, barangkali ada sebab tertentu yang bisa menjadikan padi-padi itu gabug.

Ternyata saya salah, itu memang jawaban serius dan paling ilmiah yang bisa beliau berikan. “Betul, sebabnya gusti Allah. Gusti Allah sedang menahan hasil tani kami. Sekalipun tidak ada suatu apapun, pohon-pohon padi terlihat subur dan buli-bulir padi gemuk-gemuk, lantaran para petani sudah berusaha semaksimal yang dapat mereka lakukan, selama rizki ditahan, maka kosonglah padi-padi itu. Kami bisa tumbuh-gemukkan padi, tapi cuma gusti Allah yang bisa kasih isi.” Begitu lanjut beliau.

Saya pun hanya bisa berlanjut ke mode kontemplasi. Memang begitulah adanya, tak ada yang bisa melangkahi yang Maha Kuasa. Pakai heran segala pula pas dijawab gusti Allah. Astaghfirullah, semoga bukan pertanda keringnya hati. Seketika itu pun jadi teringat ceramah tentang akhir zaman yang baru dibagikan oleh seorang teman yang salah satu poinnya yaitu bahwa salah satu gejala akhir zaman adalah Allah akan menahan sepertiga hasil bumi pada suatu tahun, lalu dua pertiga di tahun berikutnya. Apakah gabug-nya padi-padi ini adalah salah satu pertanda? Hanya Allah yang tahu. Toh tugas kita adalah bersiap, agar ketika ketentuan itu datang, kita termasuk golongan yang selamat. Amin.

Video yang saya maksud: https://youtu.be/F4ie3uM-GPY

Advertisements

One thought on “Ilmu Padi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s